Tuesday, August 23, 2016

Akhirnya gue di beri berkesempatan untuk bisa menulis lagi di blog gue ini. Setelah sekian lama gue gak nulis lagi karena aktivitas gue sehari-hari. Okeh, kali ini gue mau ngomongin perjuangan gue untuk mendapatkan program studi (prodi) di PTN. Oh iya, by the way, gue lulus dari SMA (jurusan IPA) tahun 2014. Jadi bisa lo bayangkan sudah berapa lama gue berjuang untuk mencapai program studi (selanjutnya akan gue sebut prodi untuk mempersingkat) di PTN sampai tahun ini, 2016. Baik gue akan memulai kisah gue dari kelas XII SMA.
Ketika gue masih di SMA dan di tanya ingin melanjutkan kuliah kemana, gue pun bingung akan menjawab kemana. Ada satu kampus negeri yang sempat mencuri perhatian gue untuk bisa melanjutkan kuliah, yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini bermula dari keikutsertaan gue mengikuti lomba cerdas cermat di sana, IPB, bersama beberapa teman gue yang menjadi wakil dari sekolah. Awalnya, guru pembimbing gue di sekolah melakukan seleksi untuk mengikuti cerdas cermat ini. Dan gue sebenarnya gak pede untuk mengikuti cerdas cermat ini. Namun entah kenapa gue terpilih menjadi salah satu dari beberapa perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan ini. Akhirnya terpilihlah gue untuk ikut cerdas cermat di sana.
Datang di kampus IPB membuat gue merasa ingin membulatkan tekad untuk melanjutkan kuliah di sana. Dengan suasana kampus yang dingin karena banyak pohon-pohon rindang di dalam kampusnya, membuat gue menjadi nyaman untuk melanjutkan kuliah di sana. Gue pun memutuskan untuk belajar agar bisa kuliah di kampus ini.
Seiring berjalannya waktu dan kelulusan gue dari SMA. Takdir berkata lain.
Berawal dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), gue tidak memilih kampus IPB yang sempat gue idam-idamkan karena gue sadar akan nilai gue selama di SMA. Alhasil, dengan kesadaran gue akan nilai-nilai di SMA, membuat gue tidak lulus / gagal dalam SNMPTN 2014. Gue pun akhirnya harus belajar lebih giat lagi untuk mengikuti ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) . Dengan mengikuti bimbel yang hanya beberapa bulan dan belajar dari zenius.net juga pastinya, alhamdulillah gue di beri kesempatan lulus SBMPTN 2014 di pilihan ke tiga. Ya walaupun bukan di pilihan pertama gue, yakni kampus IPB yang sudah membuat gue terkesima dengan datang ke kampusnya waktu mengikuti lomba cerdas cermat di sana. Gue pun mengikhlaskan IPB untuk bisa melanjutkan kuliah gue di UNJ, pilihan ke tiga di SBMPTN 2014.
Gue pun melakukan daftar ulang di UNJ kala itu. Segala aktivitas dan kegiatan persiapan ospek di UNJ pun gue jalankan. Hingga pada saatnya gue memulai awal perkuliahan di UNJ.
Sama seperti siswa-siswa lainnya yang baru lulus dari SMA dan keterima di PTN pilihan mereka, gue pun ikut merasakan senang atas keberhasilan gue keterima di UNJ. Awal perkulihan gue jalani sebagaimana mestinya.
Gue beradaptasi dengan lingkungan baru gue, lingkungan kampus. Beradaptasi dengan teman-teman baru gue di kampus, dan yang paling penting, beradaptasi dengan pola belajar yang baru dan jelas berbeda dari SMA. Gue sempat mengira kalau belajar di dunia perkulihan itu sama saja dengan belajar di SMA. Ternyata setelah gue jalani perkuliahan beberapa bulan, gue pun mulai merasakan perbedaan yang sangat signifikan dalam proses belajar dari SMA ke Perguruan Tinggi. Di mulai dari pelajarannya yang semakin mendalam, dosen yang sangat berbeda dengan guru di sekolah,  dan teman-teman juga pastinya. Untungnya, teman-teman gue tidak aneh-aneh dan gue bisa cepat beradaptasi akrab dengan mereka yang satu jurusan sama gue. Setelah gue mengikuti perkuliahan beberapa bulan, kegiatan dengan angkatan di prodi, tepat di bulan November 2014, gue mulai merasa tidak sreg dengan prodi yang gue jalani di kampus ini. Hal ini berawal setelah gue mengikuti kegiatan Mekatronika 2014 dari prodi gue. Gue memilih resign dari prodi gue di UNJ.
Gue resign karena punya alasan yang kuat dan mendasar. Alasannya mengapa, gue jelaskan di akhir tulisan ini. Gue pun melanjutkan aktivitas gue sehari-hari setelah resign dari kampus gue.
Gue mengambil keputusan untuk belajar lagi guna mengikuti ujian SBMPTN 2015 dan ujian lainnya untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Ketika gue belajar untuk SBMPTN 2014, gue kurang begitu banyak belajar dan latihan soal. Hanya banyak belajar untuk mata ujian TPA, Bahasa Indonesia, dan sedikit Matematika Dasar. Sedangkan mata ujian lain ? Gue hanya mempelajarinya sekilas saja. Alhasil seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, alhamdulillah gue lulus di pilihan ke tiga.
Gue pun lebih membulatkan tekad kembali untuk belajar lebih baik dari tahun 2014. Gue mulai mereview ulang materi yang sempat gue tinggalkan. Belajar lagi dan belajar lagi. Gue mulai menyusun target dalam angan-angan gue. Baik itu prodi yang benar-benar pilihan gue, maupun PTNnya.
Di samping gue belajar untuk persiapan SBMPTN 2015, gue juga berkesempatan untuk bisa mengajar di suatu bimbel. Ya, di sini lah gue mempunyai dua tanggung jawab yang besar. Pertama, tanggung jawab terhadap diri gue sendiri mengenai belajar gue untuk persiapan ujian. Kedua, tanggung jawab gue sebagai seorang tutor di bimbel tempat gue mengajar. Harus gue akui, tidaklah mudah untuk mengatur jadwal antara belajar sendiri untuk persiapan ujian dan juga untuk mengajar. Gue harus mempelajari beberapa materi yang baru di karenakan kurikulum yang baru juga, yaitu KURTILAS(Kurikulum 2013). Tentunya dengan mengorbankan waktu belajar mandiri gue hanya untuk belajar materi baru sebagai bahan gue mengajar.  Dengan demikian, jadwal belajar mandiri gue jadi berubah karena gue harus mempelajari beberapa materi baru untuk gue mengajar.
Lama kelamaan gue malah ketagihan ngajar di bimbel. Gue jadi lebih sering mempelajari materi baru untuk mengajar ketimbang belajar untuk ujian gue. Ada yang gue dapat setelah gue mempelajari materi baru tersebut, seperti makin kuatnya gue akan materi dasar yang sudah gue kuasai sebelumnya. Namun, lagi-lagi waktu belajar mandiri gue tersita kembali karena keasyikan mengajar.
Layaknya anak bimbel biasa, mereka bertanya kepada gue, “Ka, kuliah di mana ?” Gue bingung kala itu akan menjawab apa. Karena gue resign sementara dari kampus gue, UNJ. Akhirnya dengan terpaksa gue menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban, “Alhamdulillah UNJ, de”. Gue hanya bisa menjawab seperti itu dengan terpaksa ketika ada yang bertanya ke gue, “Ka, kuliah di mana ?”
Belajar mandiri untuk ujian pun gue sesuaikan dengan jadwal gue mengajar. Gue belajar mandiri dengan zenius di web zenius.net. Memang asyik belajar di zenius, tapi kita hanya bisa mendengarkan suara tutor yang mengajar di video tanpa langsung bisa bertemu dengan tutor pengajar di zenius. Ada satu tutor zenius yang membuat gue jadi semangat dalam belajar, ka Wilo namanya. Doi adalah tutor TPA dan Bahasa  Inggris di zenius. Gue ingin sekali bisa ikut gabung kelas Wilo di zenius-x(bimbel zenius di tempat) bersama anak-anak zenius-x angkatan 2015. Berhubung doi aktif juga di Twitternya, gue pun mencoba untuk mention dia. Gue bilang ke dia bahwa gue ingin joined belajar bersama dia di kelas zenius-x. Awalnya gue gak pede sewaktu ingin mention dia, namun akhirnya gue pun mention dia dengan pedenya. Ternyata Wilo sangatlah open sama murid onlinenya yang ingin ikut bergabung belajar bersama dia di kelas zenius-x. Di ajaklah gue untuk ikut gabung belajar di kelas bersama dia. Tanpa berpikir banyak, gue pun sangat senang dan menghadiri kelas Wilo selasa sore. Mengikuti kelas Wilo pun gue jalanin dengan senang dan penuh semangat. Seusai gue mengikuti kelas Wilo sekitar pukul 16.30-18.30, lalu gue di ajak ngobrol dengan Wilo mengenai persiapan gue dan pilihan gue di SBMPTN 2015. Saling sharing lah gue dengan Wilo dengan penuh antusias dan semangat. Ternyata, anak-anak di zenius-x memang sudah di ajarkan benar-benar dari basic concept banget. Sewaktu gue ikut kelas Wilo, soal TPA yang di bahas dalam Bahasa Inggris. Gue pun kaget setelah menerima soal yang akan di bahas hari itu dari Wilo. Gue yang belum terbiasa dengan Bahasa Inggris, seketika itu gue di haruskan dan di paksa untuk bisa Bahasa Inggris. Akhirnya, setelah kelas pun selesai, dan sharing dengan dia, gue pun bergegas pulang dengan sangat senang karena bisa berkesempatan belajar bareng di kelas dengan tutor zenius seperti Wilo. Yang awalnya gue hanya bisa mendengar suara Wilo dari video di zenius.net, gue pun bisa belajar langsung tatap muka dengan dia di kelas. Sungguh sangatlah berkesan bisa belajar bareng di zenius-x. Thanks zenius, ka Wilo.
Belajar untuk persiapan ujian SBMPTN 2015 pun gue lanjutkan di rumah sendiri bareng zenius.net. Gue mulai menyicil satu per satu materi ujian yang ketinggalan.
Suatu ketika zenius mengadakan lomba menulis artikel dengan tema “How Zenius Changed You”. Saat gue membaca tulisan lomba tersebut di blog zenius, gue tertarik untuk mengikutinya karena berhadiah buku yang keren dengan tanda tangan dan pesan dari tutor favorit di zenius. Gue mencoba untuk  membuat beberapa tulisan untuk mengikuti lomba ini. Lagi-lagi, waktu belajar mandiri gue untuk ujian tersita untuk mengikuti lomba zeniusblog. Tapi kali ini gue tidak merasa di rugikan, karena alhamdulillah, gue bisa mendapatkan satu buku dari lima buku yang menjadi reward bagi pemenang lomba zeniusblog. Buku yang gue dapatkan adalah Common Sense and Selected Work by Thomas Paine. Gue pun mendapat pesan dan tanda tangan dari Sabda PS, tutor favorit gue di zenius. Reward tersebut gue jadikan bahan bakar untuk lebih semangat dalam belajar guna persiapan ujian SBMPTN 2015.
Setelah mendapatkan beberapa penyemangat dari zenius, gue pun mulai semangat lagi untuk belajar mandiri guna persiapan ujian. Namun ada satu hal yang tidak dapat gue pungkiri, yaitu kegiatan mengajar gue yang tidak dapat gue tinggalkan. Mengapa gue tidak meninggalkan kegiatan mengajar gue supaya bisa lebih fokus untuk belajar persiapan ujian ? Pertama, karena gue tidak mau menyusahkan kedua orang tua untuk selalu meminta uang jajan. Akhirnya gue pun tetap mempertahankan untuk mengajar. Kedua, karena memang niat gue dari lubuk hati yang paling dalam. Gue ingin sekali bisa berbagi ilmu yang gue punya melalui mengajar. Di samping gue berbagi ilmu yang gue punya, gue juga secara tidak langsung memperkuat materi ujian gue dari materi yang gue ajarkan. Namun lagi-lagi yang menjadi masalah adalah gue tidak bisa membagi waktu untuk belajar mandiri, mempelajari materi baru untuk mengajar, dan juga kegiatan membantu kedua orang tua gue, terutama antar jemput nyokab gue.
Waktu pun terus berlalu. Detik demi detik, jam demi jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Gue pun mulai menentukan ujian apa saja yang akan gue ikuti di tahun 2015. Akhirnya gue memilih beberapa ujian untuk masuk PTN. Di antaranya adalah SBMPTN 2015, SIMAK UI 2015, UMPN PNJ GELOMBANG 2 2015, dan PENMABA UNJ 2015.
Mendekati hari H ujian-ujian tersebut, gue masih dalam keadaan mengajar. Namun intensitas mengajar mulai gue kurangi. Gue pun banyak menghabiskan waktu belajar sampai malam, bisa di bilang sampai begadang. Alhasil, memang tidak banyak yang dapat gue serap dengan belajar seperti itu.  Namun apa boleh buat, hari H ujian sudah semakin dekat dan gue masih merasa kurang dalam persiapan ujian-ujian yang akan gue hadapi 2015 silam. Hingga pada akhirnya, gue menggunakan pola belajar sampai larut malam hingga mendekati H-1 ujian SBMPTN 2015.
Harus gue akui memang, belajar dengan pola seperti itu kurang efektif. Karena selain terlihat di paksakan, gue lupa bahwa tubuh gue juga butuh istirahat yang cukup menjelang ujian. Namun bukan berarti saat menjelang ujian saja di butuhkan istirahat yang cukup. Dari jauh-jauh hari, istirahat yang cukup sangatlah di butuhkan untuk tubuh setelah melakukan aktivitas sehari-hari.
Seminggu menjelang ujian SBMPTN 2015, gue semakin merasa tidak tenang karena masih banyak materi yang belum sempat gue pelajari. Namun apa boleh buat, waktu tetaplah berjalan. Dan siap tidak siap gue harus melalui ujian tersebut. Hingga akhirnya, ujian SBMPTN 2015 pun datang.
Tepat pada 9 Juni 2015, ujian SBMPTN 2015 akhirnya berjalan sebagaimana mestinya. Moment ini merupakan saat di mana para peserta ujian harus berusaha keras menjawab dan menyelesaikan soal-soal ujian. Setelah mereka sudah mempersiapkan(belajar) dari jauh-jauh hari, di saat inilah mereka menuangkan semua yang sudah di pelajari. Ada yang menjalaninya dengan benar-benar serius. Ada pula yang menjalankannya dengan santai namun serius. Bahkan ada yang mengerjakannya sampai nervous karena melihat banyak saingannya. Dan masih banyak lagi reaksi para peserta dalam mengerjakan ujian ini. Termasuk  gue, yang sejujurnya gue agak nervous dalam mengerjakan ujian kali ini.
Ujian SBMPTN 2015 pun berlalu begitu saja. Dengan meninggalkan harapan supaya bisa lulus dalam seleksi kali ini. Setelah gue mengikuti ujian SBMPTN 2015, gue mengambil keputusan untuk istirahat dulu satu hari pasca SBMPTN guna merefresh otak dan pikiran gue. Walaupun sebenarnya masih ada beberapa ujian lagi yang harus gue ikuti pasca SBMPTN 2015. Namun gue tidak mau menyiksa tubuh gue dengan langsung melanjutkan belajar seusai ujian SBMPTN. Setelah gue merasa sudah cukup istirahatnya, lusa gue melanjutkan belajar lagi untuk persiapan ujian berikutnya. Namun tidak seintens sewaktu gue belajar untuk persiapan SBMPTN 2015.
Ujian-ujian masuk PTN pun gue lalui dengan tenang dan serius dalam mengerjakannya. Hingga akhirnya pengumuman pun mulai berdatangan satu per satu. Di mulai dari pengumuman SBMPTN 2015. Hasil ujian gue kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Ya benar, ujian SBMPTN 2015 gue kali itu tidak lulus / gagal. Gue pun merasakan sedih setelah mengetahui gue tidak lulus. Bukan hanya gue yang merasakan sedih, keluarga gue pun juga merasakan hal yang sama karena ketidaklulusan gue di ujian kali ini, terutama nyokab gue. Gue sangat merasa sedih karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk nyokab dengan hasil ujian tersebut. Untungnya nyokab gue tetap memberikan semangat ke gue supaya tidak patah semangat walaupun tidak lulus. Semangat gue mulai kembali setelah nyokab memberikan semangat ke gue. Memang, semangat (support) dari kedua orang tua, terutama nyokab, sangat kuat untuk bisa menaikkan semangat belajar lagi.
Pengumuman demi pengumuman dari ujian masuk PTN 2015 mulai berdatangan satu per satu. Dan alhasil, hanya satu ujian yang gue lulus dari empat ujian masuk PTN yang gue ikuti tahun 2015. Yaitu UMPN PNJ GELOMBANG 2. Namun kelulusan gue di ujian kali ini hanya bersifat semu. Kenapa semu ? Karena kelulusan gue ini hanyalah sebagai cadangan. Iya hanya cadangan :’).
Gue memutuskan kembali untuk mengulang tahun selanjutnya, tahun 2016. Mereview kembali materi yang benar-benar masih tertinggal. Melengkapi kembali materi-materi yang gue masih bayang-bayang. Dan jauh mempersiapkan lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Karena gue tidak mau melakukan kesalahan yang sama lagi di tahun terkahir gue.
Setahun sudah gue mempersiapkan ujian masuk PTN. Dan satu tahun pula gue sudah mengajar di bimbel. Berawal dari mengajar, gue pun sedikit demi sedikit mulai membenahi diri. Baik dari segi pola belajar gue, paradigma gue mengenai mata ujian yang akan di ujikan. Dari segi waktu yang benar-benar gue mulai sensitif karena sudah tahun terakhir. Dan dari segi lainnya yang gak bisa gue sebutkan satu per satu di sini.
Awal perjuangan di tahun terakhir gue di mulai semenjak nyokab membolehkan gue kembali untuk berjuang. Memang nyokab yang terus ngasih support agar gue tidak terlalu down atau patah semangat ketika belum di terima di tahun 2015. Gue memulai untuk mempersiapkan lebih matang dan lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnnya.
Tahun sebelumnya, bisa di bilang gue lebih banyak belajar sendiri di rumah ketimbang belajar bersama teman-teman gue. Namun di kesempatan gue kali ini, gue mulai tidak belajar sendiri lagi di rumah. Gue di undang oleh teman gue untuk ikut bergabung dengan group line buatan dia. Which is adalah group yang beranggotakan seperti gue, sesama pejuang SBMPTN 2016 dan ujian tulis PTN lainnya.
Awal gue masuk group dia, gue pun saling berkenalan satu sama lain dengan anggota group yang lain. Gue melihat belum ada keaktifan dalam group ini. Mungkin karena masih pada jaim jadi masih terlihat sepi(belum terlalu aktif belajar).
Enaknya bisa bergabung dengan group yang seperjuangan dengan kita, kita bisa saling sharing satu sama lain dengan sesama anggota mengenai banyak hal. Baik dari segi persiapan ujian, pola belajar yang di gunakan, menanyakan soal yang bisa di bahas bersama di group, dan lainnya.
Hingga pada saatnya mulai aktif group ini akan bahas soal dan sharing satu sama lain. Gue yang masih merasa belum banyak akan pemahaman materi ujian kala itu, hanya bisa menjadi silent reader dan menyimak pembahasan mereka. Ketika ada yang benar-benar gue tidak mengerti barulah gue nongol di group untuk menanyakan apa yang gue belum ngerti. Untungnya ada yang bisa menjawab dan menjadi bahan diskusi. Diskusi soal di group yang seperti inilah yang bisa menjadi salah satu penyemangat kita ketika kita malas belajar. Melihat teman-teman group yang begitu ambis untuk persiapan ujian, kita bisa jadi ketularan semangat ketika kita sedang malas belajar. Hal ini gue rasakan secara kontinu.
Selain belajar bersama di group, gue pun mulai mencari teman untuk bisa belajar bersama secara langsung minimal seminggu sekali di suatu tempat. Berawal dari chat group, lalu berlanjut ke chat personal dan menjadi akrab. Bertemu lah gue dengan dua orang teman gaib gue di group.
Setelah beberapa lama gue dan dua teman gue saling kenal satu sama lain, mereka mengajak gue untuk membuat kelompok belajar. Mereka merencanakan untuk bisa belajar bareng minimal satu kali seminggu. Dengan satu tutor yang bisa di percaya pastinya. Kita pun setuju untuk bisa belajar bareng minimal satu kali seminggu. Dengan mempercayakan satu mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Indonesia, kita pun memulai untuk menyusun jadwal belajar satu kali seminggu.
Universitas Indonesia terpilih untuk menjadi tempat gue dan dua orang teman gue belajar bareng satu kali seminggu. Kami bertiga memililih Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia sebagai basecamp untuk belajar. Merasakan belajar langsung di kampus UI membuat semangat gue semakin membara. Which is di tahun terakhir ini, gue benar-benar ingin sekali bisa melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia.
Rencana belajar bareng kami pun terwujud setelah perundingan bersama. Kami memilih hari selasa sore sekitar pukul 16.00 untuk belajar bareng. Namum gue dan kedua teman gue datang ke UI dari pukul 14.00 supaya bisa belajar bareng terlebih dahulu.
Gue mendapatkan rutinitas baru yang cukup mendukung belajar gue. Belajar bersama seperti ini benar-benar gue manfaatkan untuk saling sharing dan ngajarin satu sama lain. Melalui belajar bersama, gue jadi tau mana kekurangan gue akan suatu materi. Rutinitas gue ini berlangsung secara kontinu beberapa bulan menjelang hari H SBMPTN 2016.
Di samping gue belajar bareng dengan dua teman gue, gue berkesempatan mengikuti bimbel ILUNI FEB UI. Informasi ini gue dapatkan dari salah satu teman gue di group line yang seperjuangan dengan gue. Gue juga tidak percaya bisa berkesempatan mengikuti bimbel ILUNI FEB UI ini. Selain bisa belajar langsung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, gue kembali mendapat tambahan bahan bakar semangat belajar di kampus UI ini. Kampus yang menjadi target terakhir gue. Gue bertemu kembali dengan teman-teman baru yang seperjuangan dengan gue. Dan yang jelas, teman-teman baru gue ini mayoritas adalah siswa kelas XII SMA. Untungnya yang alumni bukan hanya gue, ada beberapa teman gue juga yang alumni. Bertemu dengan anak-anak yang hebat dan luar biasa, membuat gue semakin semangat belajar untuk ujian masuk PTN 2016. Melihat antusias dan ambis mereka dalam belajar, gue semakin merasa panas. Hal ini membuat gue mulai tidak malas belajar lagi, walaupun terkadang suka ada rasa malas untuk belajar hehe. Namun ketika gue mengingat antusias mereka, rasa malas belajar itu hilang seketika. Mungkin salah satunya karena takut kalah bersaing dengan mereka. Akhirnya, gue menjadi sering belajar di kampus yang benar-benar mutlak pilihan gue, Universitas Indonesia.
Berawal dari seminggu sekali belajar di Universitas Indonesia, setelah mengikuti bimbel ILUNI FEB UI, menjadi tiga kali seminggu gue belajar di kampus UI Depok. Hal ini belanjut secara kontinu dan gue benar-benar memanfaatkan kesempatan kali ini.
Selain belajar bersama kedua teman gue, belajar di FEB UI, terkadang teman-teman group line seperjuangan gue mengajak untuk bisa belajar bersama juga. Lagi-lagi terpilih kampus UI sebagai tempat belajar bersama teman-teman group line gue. Semakin panas lah gue melihat antusias dan ambis mereka dalam belajar. Belajar di kampus UI ini sudah beberapa kali gue rasakan. Pertama, rutinitas gue dan kedua teman gue seminggu sekali belajar bareng. Kedua, belajar di FEB UI. Dan ketiga, belajar bareng teman-teman group line. Dalam hati gue berdumam, “Ya Allah, moga2 di beri kesempatan untuk bisa beneran belajar dan kuliah di kampus UI, aamiin.” Dan ternyata..... lanjut dulu bacanya ya hehe.
Waktu terus berjalan semakin dekat dengan hari H ujian masuk PTN. Di mulai dari SBMPTN 2016 yang semakin dekat, SIMAK UI menyusul sesudahnya dan masih ada beberapa ujian lagi. Oh iya, by the way, di tahun 2016 ini, ada satu ujian tambahan yang gue tidak ikut di tahun 2015. Di tahun 2015 gue hanya mengikuti SBMPTN, SIMAK UI, UMPN PNJ GELOMBANG 2, dan PENMABA UNJ, kali ini ada satu tambahan ujian, yaitu SPMB MANDIRI UIN JAKARTA. Jadi bisa di bilang tahun 2016 ini gue mengikuti ujian SBMPTN, SIMAK UI, SPMB UIN JAKARTA, PENMABA UNJ, dan UMPN PNJ GELOMBANG 2.
Mungkin ada di antara lo yang bertanya-tanya, gue milih prodi apa ? Lanjutkan dulu membacanya sampai selesai ya.
Ujian masuk PTN 2016 pun gue lalui satu per satu dengan kesungguhan dan kesiapan yang bisa di bilang agak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, gue melewati ujian masuk PTN kali ini benar-benar dengan rileks dan fokus. Walaupun masih ada rasa gugup dan takut gagal sedikit ketika mengikuti ujian-ujian tahun ini. Namun tetap gue lalui dengan semangat dan santai.
Setelah gue melalui ujian demi ujian, pengumuman mulai berdatangan satu per satu. Di mulai dari pengumuman SBMPTN 2016. Hasil pengumuman SBMPTN 2016 gue kali ini sama dengan tahun sebelumnya, 2015. Yaps benar banget kalo lo nebak gue gagal/tidak lulus. Harus gue akui memang, sedih yang benar-benar mendalam gue rasakan ketika gue membuka pengumuman SBMPTN 2016.
:')
Gue membuat keluarga gue, terutama nyokab gue, sedih dan kecewa atas kegagalan gue kali ini. Di tahun terakhir gue berSBMPTN malah memberikan hasil yang tidak memuaskan. Namun apa boleh buat, takdir berkata lain di SBMPTN 2016 gue kali ini. Hal yang membuat gue sedih lagi adalah ketika gue menanyakan hasil SBMPTN teman-teman gue. Baik teman di group line, kedua teman gue yang belajar bareng seminggu sekali di UI, teman-teman gue di bimbel ILUNI FEB UI, dan teman-teman gue yang lain. Entah rasa senang atau sedih yang gue rasakan ketika gue mengetahui teman-teman gue banyak yang lulus di SBMPTN 2016. Senang mendengar mereka lulus karena keberhasilan mereka dalam SBMPTN 2016, sedih karena gue tidak lulus dalam SBMPTN 2016. Gue sempat merasa terpikul akan suasana saat itu. Gue menunggu kembali pengumuman-pengumuman yang akan berdatangan.
Pengumuman SIMAK UI pun akhirnya tiba. Teman-teman gue yang sama seperti gue, tidak lulus di SBMPTN 2016, ada yang lulus di SIMAK UI. Berbeda dengan gue, mendapatkan hasil yang sama dengan SBMPTN 2016, gue pun mendapatkan kegagalan di SIMAK UI kali ini. Perasaan sedih yang semakin bertambah gue rasakan setelah mengetahui gue gagal kembali di ujian ini.
Lalu bagaimana dengan SPMB MANDIRI UIN JAKARTA gue ? Ujian SPMB UIN ini sebenarnya di laksanakan di bulan puasa sesudah pengumuman SIMAK UI. Jadi gue masih di beri kesempatan untuk bisa belajar dan mereview kembali materi-materi yang masih belum gue pahami. Karena gue sudah terlanjut down dengan kegagalan gue di SBMPTN 2016 dan SIMAK UI 2016, semangat belajar gue jadi menurun untuk persiapan SPMB UIN. Namun tidak dapat gue pungkiri, gue harus tetap mengikuti ujian SPMB UIN JAKARTA. SPMB UIN pun akhirnya gue lalui dengan H2S(Harap-Harap Cemas). Sesudah mengikuti SPMB UIN, gue menunggu kembali hasilnya beberapa minggu kemudian. Sambil menunggu pengumuman SPMB UIN, gue melanjutkan belajar untuk ujian PENMABA UNJ.
Selama persiapan menghadapi PENMABA UNJ, gue mencoba untuk belajar sendiri kembali. Karena teman-teman gue sudah banyak yang lulus di ujian-ujian masuk PTN sebelumnya(which is SBMPTN, SIMAK UI, UTUL UGM, UM UNDIP, dll.). Gue teringat dengan salah satu teman gue yang sudah lulus di UM UNDIP. Gue meminta kepada dia untuk mengajarkan suatu materi yang belum gue pahami. Chemistry, ya entah kenapa satu bidang itu, kimia, yang terkadang gue masih belum mengerti. Untungnya dia mau membantu gue selama persiapan PENMABA UNJ. Hampir setiap malam gue bacotin dia melalui chat line untuk menanyakan soal kimia. Perlahan gue mulai mengerti, walaupun tidak begitu mengerti. Setelah beberapa hari gue belajar untuk persiapan ujian PENMABA UNJ bersama teman gue yang satu ini, hari H PENMABA UNJ akhirnya datang juga. PENMABA UNJ gue lalui dengan sedikit santai. Tidak terlalu nervous seperti ujian-ujian gue sebelumnya. Lalu apa yang gue lakukan seusai ujian PENMABA UNJ ? Gue pun menunggu pengumuman SPMB UIN yang berselang lima hari setelah ujian PENMABA UNJ. Selain itu, gue melanjutkan belajar kembali untuk ujian terkakhir gue, UMPN GELOMBANG 2 PNJ 2016.
Gue kembali membacoti teman gue selama persiapan UMPN PNJ kali ini. Jika persiapan PENMABA UNJ gue sering menanyakan soal kimia kepada teman gue, dalam persiapan UMPN PNJ ini gue lebih sering menanyakan beberapa soal fisika yang gue belum ngeh. Selain itu, gue juga meminta bantuan sama temen gue untuk memeriksa jawaban gue untuk materi ujian Bahasa Indonesia dan Bahasa Ingrgirs. Gue pun saling sharing dengan dua teman gue di chat line. Teman gue yang satu untuk soal fisika, dan teman gue yang satu lagi ini untuk soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Sambil belajar untuk ujian UMPN PNJ, pengumuman SPMB UIN tidak terasa mulai datang. Ketika hari H pengumuman SPMB UIN, gue agak tidak sabar ingin membuka hasil ujiannya. Berawal dari yang di jadwalkan sore untuk pengumuman, gue pun mencoba untuk membuka pengumuman sore. Namun sering kali di dapati web eror karena banyak yang membuka untuk melihat hasil pengumuman. Gue memutuskan untuk membuka pengumuman SPMB UIN ba’da Maghrib.  Dan jeng jeng... setelah gue buka pengumuman SPMB UIN, hasil yang sama dengan SBMPTN dan SIMAK UI pun gue dapatkan kembali. Ya, kegagalan tuk kesekian kalilnya gue dapatkan di tiga ujian ini. Gue sudah mengikhlaskan kegagalan gue di tiga ujian ini. Dan kembali fokus persiapan UMPN PNJ yang tinggal menghitung hari setelah pengumuman SPMB UIN. Waktu yang tersisa untuk persiapan UMPN PNJ kali ini benar-benar gue manfaatkan. Gue tidak ingin gagal di ujian terakhir gue ini.
Persiapan UMPN PNJ gue rasa sudah benar-benar lebih baik dari ujian-ujian sebelumnnya. Tibalah hari H UMPN PNJ. Entah kenapa di ujian UMPN PNJ kali ini, gue benar-benar melaluinya dengan santai abis, pede abis. Berbeda dengan ujian-ujian gue sebelumnya yang bisa di bilang sedikit nervous. Akhirnya gue lalui ujian UMPN PNJ kali ini dengan pede. And this is the end my last exam. Huft. Gue merasakan kelegaan yang luar biasa sesudah mengikuti ujian UMPN GELOMBANG 2 PNJ 2016. Gue berasa curhat selama mengerjakan UMPN PNJ. Gue mengeluarkan semua unek-unek persiapan belajar gue di UMPN PNJ dengan semaksimal mungkin. Terlepas gue lulus atau tidak di ujian terakhir gue ini, gue mengikhlaskan terlebih dahulu.
Bagaimana dengan pengumuman PENMABA UNJ gue ?
Awalnya pengumuman PENMABA UNJ akan di umumkan tanggal 5 Agustus, namun setelah gue lihat kembali di web PENMABA UNJ, pengumuman di undur kembali menjadi tanggal 9 Agustus. Bertepatan dengan pengumuman UMPN GELOMBANG 2 PNJ. Gue seperti mendapat double attack tanggal 9 Agustus kemarin. H2S(Harap2 cemaS) dengan kedua pengumuman terakhir ini.
Gue meyakini salah satu dari kedua ujian gue kali ini ada yang lulus dan ada juga yang tidak lulus. Gue lebih mengharapkan lulus di PENMABA UNJ ketimbang di UMPN PNJ. Karena kampus UNJ lebih dekat dari rumah gue ketimbang PNJ yang lebih jauh dari rumah gue. Namun gue mulai mengikhlaskan akan lulus di ujian manakah gue kali ini.
Ketika matahari sudah mulai naik di siang hari, ba’da Dzuhur gue mencoba untuk membuka hasil dari kedua ujian terakhir gue. Gue sempat merasa bimbang ketika ingin membuka hasil ujian gue. Manakah yang harus gue buka terlebih dahulu ? PENMABA UNJ atau UMPN GELOMBANG 2 PNJ ? Hati gue mendumel dengan keras untuk membuka UMPN GELOMBANG 2 PNJ terlebih dahulu. Namun hasrat ini berlawanan dengan hati gue. Sempat ada pikiran untuk membuka pengumuman PENMABA UNJ terlebih dahulu. Tapi gue tetap mengikuti kata hati gue untuk membuka pengumuman UMPN GELOMBANG 2 PNJ terlebih dahulu. Dan hasilnya setelah gue buka adalah.....
Jeng ... jeng.... jeng.... jeng....

ALHAMDULILLAH :)

ALHAMDULILLAH !!!! Akhirnya penantian gue selama ± 2 tahun untuk mencapai prodi yang gue cita-citakan tercapai di tahun ini. Which is tahun terakhir gue untuk mengikuti ujian-ujian PTN :’). Tanpa langsung berpikir banyak, gue langsung sujud syukur setelah melihat keberhasilan gue di UMPN PNJ kali ini. Nikmat yang luar biasa benar-benar gue rasakan setelah membuka pengumuman UMPN PNJ. Rasa senang dan haru bercampur kala itu. Senang karena keberhasilan gue di ujian terakhir, haru karena PNJ cukup jauh dari rumah gue :’). Gue langsung memberitahukan kepada nyokab gue akan keberhasilan gue sekarang. Nyokab gue akhirnya ikut merasakan senang atas keberhasilan gue di ujian kali ini. Akhirnya gue bisa membuat keluarga gue, terutama nyokab gue, senang dan bangga dengan keberhasilan gue di tahun terakhir ini. Memang benar, ikutilah kata hati lo ketika lo ingin melakukan sesuatu :’). Dan percayalah akan ada saatnya keberhasilan menghampiri lo setelah lo berjuang sekian lama untuk mendapatkan apa yang lo cita-citakan.
Kedua teman gue yang selalu gue bacotin selama persiapan UMPN PNJ ini ikut senang dengan keberhasilan gue. Akhirnya gue yang seperjuangan dengan mereka berhasil juga mencapai prodi yang gue cita-citakan. Rasa terima kasih gue kepada mereka berdua mungkin tidak sebanding dengan ilmu yang sudah mereka beri kepada gue selama persiapan. Bacotan gue tiap malam kepada mereka berdua akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka merasa senang dan lega mendengar keberhasilan gue kali ini. Thank in advance friends ! You’are  my best friend !
Lalu bagaimana dengan PENMABA UNJ gue ?  Untungnya gue mengikuti kata hati gue ketika ingin membuka pengumuman dua ujian terakhir gue ini. Rasa syukur, senang, dan lega yang luar biasa sudah bisa menutupi kesedihan gue yang sudah lalu. Sehingga sesudah gue membuka hasil PENMABA UNJ dan gue tidak lulus, rasa sedih yang gue rasakan sudah tertutupi oleh keberhasilan gue di UMPN PNJ. Ya memang harus gue akui. UNJ kali ini tidak mau balikan lagi sama gue. Gue tidak lulus/gagal di PENMABA UNJ. Sedih tetap gue rasakan. Namun keberhasilan gue tetap gue syukuri walaupun tidak lulus di PENMABA UNJ.
Mungkin UNJ sudah sakit hati sama gue karena sudah gue lepaskan begitu saja tanpa alasan. Seandainya kau tau UNJ mengapa aku melepasmu. Aku melepasmu kala itu karena aku punya alasan yang cukup kuat dan mendasar. Sejujurnya bukannnya aku melepasmu  UNJ, tapi aku melepas prodi di kamu UNJ :’). Aku belajar banyak darimu UNJ. Kamulah yang menjadi awal pembelajaranku di dunia perkuliahan. Kaulah yang mengenalkanku bedanya kehidupan di sekolah dan di kampus. Dan masih banyak  lagi yang tidak dapat aku sebutkan satu per satu di tulisanku yang sederhana ini.
Perjuangan dan penantian gue untuk mendapatkan prodi yang gue cita-citakan akhirnya tercapai di tahun 2016. Begitu banyak rintangan dan tantangan yang gue hadapi selama proses perjuangan gue untuk mendapatkan prodi di PTN. Di mulai dari belajar mandiri di rumah seorang diri. Mengatur jadwal belajar mandiri dengan kegiatan mengajar di bimbel. Membantu pekerjaan rumah orang tua serta antar jemput nyokab gue dan ade gue. Dan beberapa rintangan dan tantangan yang gue hadapi selama perjuangan gue.
Selama ± 2 tahun gue belajar dan berjuang untuk mencapai prodi yang gue cita-citakan. Banyak pelajaran yang bisa gue pelajari selama perjuangan gue. Di mulai dari betapa pentingnya untuk bisa menghargai waktu. Membagi waktu untuk belajar dan kegiatan lain. Memanfaatkan moment belajar bareng dengan teman seperjuangan. Memperjuangkan yang pantas untuk di perjuangkan. Tidak patah semangat atau down ketika kegagalan menghampiri diri kita. Menghargai setiap masukan dari orang lain. Mematahkan setiap sarkasme yang terlontar dari orang lain ke diri kita. Dan masih banyak  lagi pelajaran yang bisa gue petik selama perjuangan gue ± 2 tahun ini.
Oh iya, dari awal tulisan gue, gue belum menceritakan prodi apa yang sebenarnya gue pilih dan gue cita-citakan dan alasan mengapa gue resign dari UNJ. Okeh, sekarang saatnya gue ceritakan hal itu. Eh tapi kan lo juga udah liat prodi apa yang gue pilih dari screenshoot kelulusan UMPN PNJ gue di atas hehe.
Prodi yang gue cita-citakan adalah Matematika atau Teknik Informatika. Walaupun gue tidak berhasil mendapatkan prodi Matematika, gue tetap mensyukuri keberhasilan gue mendapatkan prodi Teknik Informatika. Okeh sejujurnya pilihan prodi gue tidak begitu penting sebenarnya untuk di ceritakan. Yang jauh lebih penting adalah alasan gue resign dari UNJ.
Seperti yang sudah gue bilang di awal tulisan gue, gue resign dari UNJ di karenakan gue tidak sreg dengan prodi gue. Pasti lo bertanya-tanya, “kalo udah tau gak sreg kenapa tetep di pilih juga ?” Okeh memang gue akui di situlah kesalahan gue dalam memilih. Di samping sayangnya prodi gue karena banyak saingan yang ingin mendapatkan prodi yang sudah gue lepas. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Sejujurnya prodi itu bukanlah murni pilihan gue pribadi. Oleh karena itu gue memilih untuk resign dari UNJ.
Gue memutuskan resign karena setelah beberapa bulan menjalani perkuliahan, gue mulai berfikir. Apakah gue akan bisa bertahan di prodi which is gue aware kalo gue gak sreg dengan prodinya. Apakah gue bisa menjalani studi yang udah jelas-jelas gue tidak sreg. Oleh karena itu gue memutuskan untuk resign dari UNJ. Ingat, gue resign dari prodinya, bukan dari UNJnya.
Selain itu, gue juga terkadang kepikiran, apa yang akan gue perbuat dengan sesuatu yang gue jelas tidak sreg. Sedangkan perkuliahan itu ± 4 tahun di jalani. Sempat terpikir di benak gue untuk mencoba “jalanin aja dulu”, namun hati tetap bersih keras ingin resign dari prodi di UNJ. Memang tidak ada yang pernah tau akan seperti apa ke depannya nanti. Namun bukankah segala sesuatu itu di mulai dari saat ini. Saat di mana kita menjalani suatu kegiatan secara langsung. Jika awalnya saja sudah tidak sreg, bagaimana untuk kedepannya nanti ?
Sekolah dan perkuliahan adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Jika di sekolah guru-guru sering mengingatkan akan tugas, nilai-nilai kita yang masih kosong, dan lainnya. Di dunia perkuliahan sungguh sangatlah berbeda. Tidak semua dosen di perguruan tinggi itu masih memberi perhatian terhadap mahasiswanya sama halnya seperti guru kepada siswanya. Di sekolah memang kita di haruskan untuk mempelajari banyak pelajaran, mungkin ada salah satunya yang kita tidak suka. Lain halnya di perkuliahan. Di perkuliahan kita sudah harus bisa mengeksplor bidang yang sudah kita ambil. Kita di haruskan lebih banyak belajar mandiri ketimbang selalu di suapin oleh dosen di kelas. Karena studi yang kita pilih akan menjadi investasi ilmu kita sesudah lulus perkuliahan nanti. Kita sendiri yang menggunakan dan memanfaatkan ilmu yang sudah kita pelajari selama proses perkuliahan. Oleh karena itu gue memutuskan untuk resign dari prodi gue di UNJ.
Mungkin masih ada beberapa alasan gue lagi yang membuat gue memutuskan untuk resign dan tidak mungkin gue jabarkan semuanya di tulisan yang sederhana ini.
Gue akan coba kasih beberapa tips kalian dalam memilih prodi di PTN :
1. Pilihlah prodi yang memang benar-benar minat kalian.
Jika kalian sudah menaruh minat pada suatu bidang studi, rasa belajar di dunia perkuliahan bukanlah lagi sebatas beban. Namun hal  itu bisa menjadi sebuah tantangan buat kita. Bagaimana kita bisa memecahkan sebuah masalah yang berkaitan dengan studi kita. Mengeksplor lebih jauh dan lebih dalam mengenai minat kita terhadap studi yang kita pilih. Dan lain sebagainya.
2. Jangan memilih prodi karena ikut-kutan teman / pacar  / gebetan
Mungkin masih ada beberapa dari mahasiswa yang memilih prodi karena ikut-ikutan teman atau pacar. Jangan hanya karena pacar lo ingin kuliah di kedokteran, lo juga memilih untuk kuliah di kedokteran. Apalagi sampai ingin sekampus dan seprodi hanya karena ingin bisa terus bersama dengan si pacar HAHAHA. Lo sudah dewasa man. Jangan hanya karena lo ingin terus bersama dengan pacar lo, lo mengorbankan masa depan lo demi doi.
3. Ikuti kata hati lo ketika memilih prodi
Mungkin hampir sama seperti kita memilih lawan jenis kita. Pastilah kita memilih sesuai dengan kata hati kita. Jika dari awal kita sudah tidak sreg dengan pilihan kita, bagaimana kita akan menjalaninya. Jika dalam suatu hubungan mungkin bisa dengan sekedar “jalanin aja dulu". Namun di dunia perkuliahan jangan pernah sekali-sekali lo memakai kata-kata itu, “jalanin aja dulu”. Dunia perkuliahan bukanlah semata-mana untuk having fun. Bukannlah hanya sekedar nongkrong tidak jelas dengan teman-teman, hangout yang tidak berarti dengan teman atau pacar dan lainnya. Tapi dunia perkuliahan adalah tempat di mana lo berkesempatan untuk bisa mendalami ilmu yang lo suka. Tempat di mana lo bisa belajar lebih dalam akan bidang yang benar-benar lo sukai sampai lo rela untuk gak tidur demi ngulik bidang yang lo suka.
Mungkin 3 hal  itu yang menurut gue penting dalam memilih jurusan. Ada beberapa hal lain yang harus di perhatikan juga dalam memilih jurusan. Salah satunya adalah saingan, daya tampung, dan kekekatan prodi yang lo pilih. Namun jikalau ketiga hal di atas sudah bisa lo lalui, masalah saingan, daya tampung, dan kekekatan bukanlah jadi hal yang terlalu berat lagi buat lo. Justru hal itu menjadi tantangan buat lo. Bagaimana caranya supaya lo bisa lulus di prodi yang benar-benar sesuat minat dan bakat elo. Bagaimana mengatur strategi belajar supaya lo bisa mengeliminasi saingan lo dan lain sebagainya.
Oh iya, by the way, untuk lo yang sudah kuliah di tahun pertama(sesudah lo lulus SMA) dan lo berpikiran untuk resign atau ingin ikut lagi untuk mencapai pilihan yang sesuai minat dan bakat lo, mungkin beberapa hal ini bisa menjadi masukan dari gue buat lo ;
Pertama, kalau lo memang berniat untuk resign seperti gue, pikirkan akan hal yang di luar ekspektasi (di luar dugaan) lo. Maksudnya adalah pikirkan jika seandainya lo tidak lulus di ujian berikutnya. Lain halnya jika lo ingin ikut ujian kembali sambil menjalani perkuliahan lo. Hal itu masih mending ketimbang lo resign seperti gue. Walaupun di ujian berikutnya lo tidak lulus, lo masih bisa melanjutkan kuliah lo di kampus awal lo. Jika memang benar-benar ingin resign, buat suatu antisipasi untuk menyiasati jika gagal. Memang tidak ada yang tau ke depannya seperti apa, tapi kita juga harus bisa memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Kedua, cari kegiatan lain selain belajar untuk  persiapan ujian. Karena memang tidak dapat di pungkiri ketika kita sedang persiapan ujian, pasti akan menemukan satu titik jenuh dalam belajar. Mungkin bisa di ganti dengan membaca buku, olahraga, belajar bersama teman seperti gue seminggu sekali, hangout bersama temen yang lebih guna, dan lain sebagainya. Selain untuk merefresh otak lo, juga untuk melupakan sedikit kejenuhan dan kepenatan dalam proses persiapan ujian.
Ketiga, mintalah support(dukungan) dan restu dari kedua orang tua lo. Hal ini tidak kalah penting pastinya. Karena memang tidak dapat di pungkiri akan restu dari kedua orang tua. Selain untuk memudahkan selama proses persiapan ujian, dukungan dari orang tua bisa menjadi epos(energi positif) dalam belajar. Bisa membuat lebih pede dalam belajar dan mengerjakan soal. Dan lain sebagainya.
Keempat,  ketika ada sarkasme ke diri elo, jangan langsung lo telen dan terima bulat-bulat seperti tahu bulat. Sejujurnya selama gue persiapan ujian masuk PTN, gue selalu di cemooh sama ade gue HAHAHA. Ade gue selalu bilang, “yah mana katanya pinter, masa gak lulus-lulus ujiannya” ketika gue gak lulus dalam ujian. Sarkasme seperti itu bisa lo jadikan batu loncatan elo untuk membuktikan bahwa elo bisa. Yakinlah pada diri elo bahwa lo bisa lulus ujian. Elo bisa menghadapi saingan lo. Buktikan bahwa lo bisa. Sewaktu gue diberlakukan seperti itu oleh ade gue sendiri, dalam hati gue mendumel “liat aja nanti lo, gue bakal buktiin kalo gue bisa !!!” Jadikan sarkasme seperti ini sebagai bom buat lo.
Kelima, jangan mengulangi kesalahan yang sama di ujian berikutnya. Klise memang, namun hal ini memang harus selalu lo inget agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tetap semangat dalam belajar. Jadikan masa lalu lo yang buruk itu menjadi guru untuk lebih baik di ujian selanjutnya. Jika sudah pernah merasakan tidak enaknya gagal, pasang mindset di pikiran lo bahwa lo harus bisa lulus di ujian berikutnya. Harus bisa lebih baik dari ujian sebelumnya. Pengalaman adalah guru terbaik untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Mungkin beberapa hal tersebut yang bisa menjadi masukan untuk lo yang ingin mengikuti ujian kembali. Terutama lo yang bimbang antara resign dengan melanjutkan kuliah di prodi yang lo gak sreg.
Sekarang gue kasih beberapa tips belajar menghadapi ujian masuk PTN.
1. Menguasai Konsep
Gue baru menyadari pentingnya belajar pake konsep setelah gue kenal dan belajar dengan zenius.net. Belajar menggunakan konsep bakalan lebih ngena di otak. Ngena di sini adalah lebih melekat di otak. Kita jadi jauh lebih paham dan ngerti suatu materi dengan mengusai konsepnya bener-bener. Istilahnya konsep itu kaya pondasi. Ibarat mau bangun gedung, kalo pondasinya kuat, bangunannnya juga pasti kuat dan jauh lebih kokoh. Begitu juga dengan penguasaan konsep pelajaran. Kalo konsepnya udah bener-bener paham, belajar ke depannya juga jauh lebih enak. Jadi yang pertama harus bisa lo kuasai adalah konsep dari mata pelajaran yang akan di ujikan.
2. Banyak Latihan Soal (Deliberate Practice)
Setelah kita menguasai konsep pelajarannya, jangan lupa untuk perbanyak latihan soal juga. Tapi buat gue pribadi, latihan soal pertama untuk menguji konsep kita, bisa di mulai dengan mengerjakan soal-soal SMP atau bahkan SD. Coba kerjain soal yang masih basic sebelum menuju soal yang lebih advance. Kalo bisa sih sampe lo dapet cela dari soal yang masih basic. Kalo lo udah terbiasa dapet ide buat ngerjain soalnya, bakalan jadi jauh lebih ennak  ketika ngerjain soal. Apalagi soal-soal ujian masuk PTN lebih menguji kepada konsep. “Makin ke sini soal-soal masuk PTN makin bagus”, benar juga yang di bilang Sabda PS, salah satu tutor di zenius.net. Oh iya hampir gue lupa, deliberate practice buat ngerjain soal juga penting banget tuh. Buat gue sih ngaruh banget yang namanya deliberate practice buat ngerjain soal. Inti dari deliberate practice adalah sering latihan soal2 dasar seperti yang sudah gue jelaskan sebelumnya. Terutama deliberate practice di bab2 yang menurut lo mudah dan sering keluar di ujian.
3. Sharing dan Belajar Bareng Sama Teman Seperjuangan
Belajar bareng itu ternyata penting juga. Selain untuk mengetahui kelemahan kita di suatu materi, kita bisa dapat banyak ide yang kadang gak kepikiran. Kalo bisa buat jadwal sama temen2 lo biar bisa belajar bareng, minimal sekali seminggu seperti gue. Itu dampaknya luar biasa banget menurut gue. Bisa menginspirasi kita juga. Bisa bikin males jadi hilang, harusnya, karena kita ngeliat temen2 kita yang pada ambis. Apalagi di group, seperti group line. Wah  itu seru abis sih buat gue. Bisa saling sharing bareng di group. Tanya ini itu segala macem di group. Bisa melepas canda dan tawa juga. Merefresh pikiran setelah belajar. Mungkin juga bisa dapet gebetan dan berlanjut jadi pacar HAHAHA. Banyak yang bisa lo dapet dari belajar bareng sama temen seperjuangan lo. Selain buat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan belajar sendiri. Terkadang belajar bareng sama temen bisa di jadikan suatu cerita yang seru dan lucu  kalo di ingat2. Bisa di ceritakan lagi ketika sudah lulus dan di terima di PTN pilihan. Salah satunya ya seperti ini, bisa di jadikan bahan tulisan di blog untuk berbagi pengalaman hehe. Ini beberapa teman seperjuangan gue...

Narsis dikit di depan MIPA UI ;D

Lagi ngerjain Kraepelin


4. Saling Ngajarin
Kalo lo udah merasa mantep akan suatu materi, jangan pernah malu untuk saling ngajarin ke temen2 lo. Dengan ngajar, penguasaan materi yang lo ajarkan bisa makin mantep. Gue merasakan itu ketika gue mengajar di bimbel. Bahkan kalo lo udah keseringan saling ngajar ke temen seperjuangan lo, terkadang lo suka merasa bosen dengan materinya. Saling ngajar tidaklah harus selalu dengan tatap muka, bisa juga di lakukan melalui chat personal.
5. Menyusun Target Pelajaran
Menyusun target pelajaran terkadang juga di butuhkan supaya kita bisa tepat waktu dalam menguasai materi ujian. Misalkan lo menargetkan harus bisa menguasai matematika bab persamaan kuadrat dalam selang waktu seminggu. Dengan menyusun target seperti itu, menjadikan kita jadi ingat akan waktu. Tidak ada lagi waktu untuk banyak bermain jika ingin menghadapi ujian, apalagi ujian masuk PTN. Namun jangan sampai kita menjadi kaku dengan jadwal target yang sudah kita buat. Oh iya, jangan lupa buat jadwal sendiri untuk belajar. Jadwal pelajaran seperti di sekolah juga bisa kita buat untuk  jadwal belajar mandiri. Buat sesuai dengan kebutuhan kita. Awalnya mungkin memang berat untuk melakukan ini, namun kebiasaanlah yang akan membuatnya jadi terbiasa.
6. Belajar Bukan Hanya Sekedar untuk Lulus Ujian, tapi untuk Seumur Hidup Lo
Mungkin hal ini yang benar-benar gue dapatkan selama belajar bareng zenius.net. Tidak hanya pelajaran yang gue dapat, tapi thinking tools lo terhadap segala sesuatu juga di ajarkan. Gue akuin memang belajar untuk lulus ujian itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah belajar untuk ngebentuk pola pikir guna buat seumur hidup elo nanti.
Mungkin lima hal tersebut bisa membantu lo untuk persiapan ujian masuk PTN. Kurang lebihnya gue mohon maaf, wassalamualaikum wr. wb. Loh jadi kaya penutup begini HAHAHA. Maaf maaf hehe. Selebihnya balik lagi ke diri lo sendiri, bagaimana belajar yang enak menurut model elo. Masukan dari gue hanya sekedar masukan biasa. Tidak semua orang bisa setuju dan mengikuti masukan dari gue. Intinya adalah selama belajar untuk ujian masuk PTN, usahakan senyaman elo buat belajar. Karena elo yang menjalani proses persiapan tersebut. Masing2 orang pasti punya cara belajarnya sendiri. Oleh karena itu, cari dan temukan cara belajar yang menurut lo asik, nyaman, dan tidak terasa terbebani.
Huaaaaah akhirnya hampir selesai juga tulisan gue yang sederhana ini. Sudah mencapai 26 halaman gue menulis pengalaman ini. Kurang lebih 2 tahun perjuangan gue mencapai prodi yang gue inginkan, hanya bisa gue tuangkan dalam tulisan yang sederhana ini. Jika lo menemukan kosakata atau kalimat yang kurang nyambung dengan konteksnya, bisa lo maklumi, karena gue hanyalah penulis amatir yang masih belajar mengenai dunia penulisan seperti  ini.
Pelajaran yang bisa gue ambil selama ± 2 tahun kemarin adalah teruslah berjuang untuk mencapai pilihan prodi di PTN yang lo inginkan. Jangan pernah takut untuk gagal. Gue pernah baca suatu kalimat seperti ini. “Orang-orang hanya melihat kesuksesan 1%, namun mereka tidak melihat 99% kegagalan yang di alami oleh orang yang mau berusaha untuk mencapai impiannya”. Gue lupa itu kalimat siapa, intinya seperti itu. Jangan menyerah ketika sedang merasa down. Bangkit, bangkit, dan terus bangkit. Percayakan pada diri lo bahwa lo bisa lulus. Lo bisa melewati setiap ujian masuk PTN yang akan lo hadapi nanti. Jangan pernah meragukan keistimewaan otak lo. Tuhan memberikan setiap human otak yang sama pada saat lahir, hanya saja ketika tumbuh dan berkembang, pemanfaatan otak bagi masing-masing human berbeda. Asahlah terus otak lo. Ingat, otak mampu membuat cabang memori baru setiap lo ingin membuatnya. Tinggal keinginan lo untuk bisa mengasah cabang memori baru tersebut supaya bisa semakin kokoh dan kuat melekat di otak lo. Yakinlah Tuhan sudah mengatur semua rencana dengan indah. Keberhasilan itu 99% kerja keras dan 1% keberuntungan. Jadi jangan percayakan penuh pada keberuntungan.
Tulisan gue ini sudah memasuki halaman ke 27, jadi mungkin ini saja yang dapat gue bagi dari pengalaman pribadi. Semoga di ujian masuk PTN berikutnya, lo bisa lulus dan keterima di prodi yang emang benar-benar pilihan elo banget. Yang emang benar-benar sesuai minat dan bakat elo. Tetaplah semangat dan jangan menyerah untuk mencapai impian kalian !
Oia, by the way berikut kesimpulan dari beberapa kegagalan dan keberhasilan gue selama ujian masuk PTN, dari 2014 sampai 2016.


Pada akhirnya, di antara gue bertiga(gue dan dua teman gue yang belajar bareng sekali seminggu di UI) gue yang harus terus berjuang melanjutkan belajar dan menekuni ilmu yang ingin gue tekuni di kampus UI. Ya walaupun bukan menjadi mahasiswa UInya, tetap belajar di Politeknik Universitas Indonesia(dulunya PNJ), di lingkungan kampus UI juga hehe.

Salam semangat dan semoga sukses. Sampai juga di tulisan gue berikutnya yaaa hehe.

11 komentar:

  1. Sukses trs kak. semoga nnt bisa jd programmer yaaaa🙏🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Giiit. Sukses juga buat ujian lo selanjutnya yaa !

      Delete
  2. 3 tahun banget jd panjang :v
    Makasih juga ya Za, udh mau belajar bareng gue dan Serly :v

    Nanti kita bikin partner belajar lagi buat lpdp :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya bisa gitu deh Lind. Jadi keluar semua unek-uneknya hahaha.

      Wah boleh juga tuh, buat lpdp LOL.

      Delete
  3. Gue salut Zaaa sama perjuangan lu...
    Semoga nyaman dan betah di prodi yang sudah lu pilih ya...
    Sukses selalu dan tetap berjuang...
    Perjuangan kita belom berakhir...
    Masih banyak rintangan di depan kitaa...
    SEMANGAT!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ka Hadi.
      Bener banget tuh, perjuangan kita belum berakhir sampai sini aja. Justru jadi awal untuk berjuang lagi yaa ka.
      Pastiinya, SEMANGAT !!!

      Delete
  4. Mantapp zaa!!sukber kitaa!!Aamiin!!

    ReplyDelete
  5. bah baru sadar, pantes gue udah lama ga liat lu berkeliaran disekitar MNI ahaha

    sukses lah brur disana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang waktu gue di UNJ lebih sering lo liat di MNI ahahah
      Aamiin, lo juga sukses di UNJ ya Sar

      Delete