Tuesday, December 27, 2016

Setelah sekian lama, kurang lebih hampir sebulan gue tidak mempublish kembali tulisan gue, akhirnya gue berkesempatan untuk bisa mempublish kembali tulisan gue. Di tulisan gue kali ini, gue ingin berbagi cerita mengenai dunia perkuliahan. Lebih spesifik lagi mengenai kuliah di salah jurusan dengan kuliah di tempat yang memang sudah lo cita-citakan.
Gue baru menyadari kurang lebih hampir tiga bulan gue menjalani perkuliahan di kampus baru ini. Terlihat begitu berbeda antara kampus lama dengan kampus yang baru. Di mulai dari jarak dari rumah ke kampus yang berbeda, lingkungan kampus yang berbeda, teman-teman yang tentunya juga berbeda, populasi wanita yang juga jauh berbeda (HEHE), perjuangan menuju kampus yang juga berbeda, dan lain sebagainya. Namun perbedaan tersebut tidaklah gue jadikan sebagai suatu hambatan dalam menjalani perkuliahan.
Seperti cerita gue di tulisan sebelumnya, yaitu Struggling to PTN, gue adalah lulusan SMA tahun 2014 dan baru merasakan kembali sekarang(2016) dunia perkuliahan yang menurut gue enjoy dalam menjalaninya. Kenapa gue bilang enjoyed, karena dalam dunia perkuliahan jika lo tidak enjoy dalam menjalankannya, maka perkuliahan bagaikan suatu tempat yang begitu mencekam.  Tempat yang merupakan banyak tugas, kuis, ujian, ini itu dan lain sebagainya. Namun jika lo sudah bisa menjalani perkuliahan dengan enjoyed, maka perkuliahan tidaklah lagi menjadi tempat yang begitu berat bagi lo. Oleh karena itu, dalam decision making untuk perkuliahan, selain mempertimbangkan berbagai hal, jangan lupa juga untuk mempertimbangkan apakah elo enjoy saat menjalani perkuliahan nantinya. (Tidak hanya decision making dalam perkuliahan saja melakukan hal ini, namun dalam hal lain juga).
Kali ini gue mau bercerita kembali gimana rasanya menjalani kuliah. Memang sih saat ini gue sedang menjalani perkuliahan gue, namun gue ingin berbagi cerita mengenai, gimana sih rasanya kuliah di tempat yang emang bener-bener kita enjoy menjalaninya dan gimana sih rasanya kuliah di tempat yang emang kita merasa perkuliahan itu berat banget rasanya- istilah kasarnya mungkin salah jurusan. By the way, gue cerita ini sambil mencoba sesuatu yang baru menurut gue, yaitu nulis diluar sendirian dan hanya di temani oleh secangkir coffee drink and doughnut. Okeh sorry, kalimat sebelumnya sangatlah amat tidak penting untuk di baca, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca satu kalimat gue sebelumnya hehe.
Baik, gue mau memulai dari gimana rasanya kuliah salah jurusan....
Saat gue kelas XII, gue ingin sekali bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri yang favorit, layaknya anak-anak SMA yang bergebu-bergebu ingin cepat lulus dari SMA. Ingin cepat-cepat melepas seragam putih abu-abu. Ingin merasakan “bebasnya dunia luar” yang katanya seru dan tidak membosankan seperti di sekolah, dan lain sebagainya. Tapi kalo ada di antara lo lo pada - readers gue, yang pernah mempunyai pikiran yang serupa dengan gue saat SMA, gue harap ubahlah pikiran itu, karena tidaklah benar semua yang lo dan gue pikirkan saat itu. Kehidupan setelah lulus dari SMA tidak seindah di sinetron dan film-film, bro and sist.
Pada waktu awal gue keterima di suatu Perguruan Tinggi daerah Rawamangun Muka, rasa senang dan syukur yang luar biasa tentunya gue dapatkan. Bisa lulus SMA dan keterima di salah satu Perguruan Tinggi yang kata orang termasuk favorit bisa menjadi salah satu hal yang bisa gue perbuat untuk membuat kedua orang tua dan keluarga tersenyum bahagia karena melihat keberhasilan gue keterima di Perguruan Tinggi.
Waktu itu gue hanya mementingkan “yang penting gue masuk Perguruan Tinggi Negeri, mengenai jurusan gue tidak begitu mementingkan”. Perkuliahan dengan konsep seperti itu akhirnya gue jalani sampai beberapa bulan.
Harus gue akui perkuliahan saat itu bisa dibilang seru, asyik. Pergi ke kampus dengan menggunakan seragam bebas tapi rapih, tidak berseragam seperti sekolah. Bisa kenal dan ketemu dengan teman-teman baru di kampus. Bisa cari gebetan atau pacar baru di kampus, - ini contoh yang tidak baik, jadi please jangan di tiru karena hanya dilakukan oleh orang yang professional. Dan bisa melakukan hal-hal baru di dunia yang baru pula.
Seminggu gue jalani perkuliahan saat itu dengan sebagaimana mestinya. Pergi ke kampus, duduk manis di kelas mendengarkan materi dari dosen. Selesai kelas, moving class untuk kelas selanjutnya. Oh iya, by the way, biasanya system kelas di dunia perkuliahan itu dengan menggunakan moving class. Jika sewaktu SMA kita hampir seharian belajar di ruangan kelas yang sama (mungkin beberapa sekolah sudah mengimplikasikan moving class juga),-kecuali ada praktikum, lain halnya dengan di dunia perkuliahan. Biasanya pembelajarannya di lakukan dengan pindah kelas untuk setiap mata kuliah (di SMA biasanya disebut mata pelajaran). Bisa dibilang bisa mengurangi sedikit rasa bosan belajar dalam ruangan kelas yang sama. Jika sudah selesai semua mata kuliah pada satu hari, gue merasa gabut, apa yang akan gue lakukan jika kelas kuliah sudah selesai semua.
Mungkin diantara lo ada yang mendumel setelah membaca ini. “Kenapa gak hangout bareng temen”, “Pelajari ulang materi yang sudah disampaikan dosen di kelas”, “Mengerjakan tugas jika ada tugas dari dosen”, atau “Ikut organisasi atau kegiatan di kampus”, dan dumelan-dumelan yang mungkin bisa kalian lontarkan ke gue.
Memang pada waktu gue kuliah saat itu, gue sempat mengikuti suatu kegiatan di kampus,- istilah di SMA adalah Ekstrakurikuler.  Gue mengikuti Lembaga Kajian Mahasiswa yang menaungi tiga pembahasan, yaitu Public Speaking, Writing, and Bedah Film atau Buku. Gue memilih writer karena gue iseng aja pengen coba ikut, kali aja bisa jadi penulis beneran, punya beberapa buku atau a masterpiece of my life yang bisa berguna untuk banyak orang HEHE. Namun, karena dalam seminggu hanya satu kali pertemuan saja pada kegiatan tersebut, gue pun kadang suka ikut nimbrung di pembahasan Public Speaking maupun Bedah Film atau Buku.
Tidak terasa kuliah gue saat itu sudah sebulan. Gue jalani perkuliahan dengan sebagaimana mestinya dalam menjalani perkuliahan. Namun gue mulai merasakan sesuatu yang mengganjal dalam gue menjalani perkuliahan ini. Mengganjal disini maksudnya adalah sesuatu yang gue baru rasakan tidak sreg dalam menjalani perkuliahan di prodi kali ini. Ingat, prodi, bukan Perguruan Tingginya. Kalau diantara kalian ada yang bertanya-tanya seperti ini, “kalo udah tau gak sreg, kenapa di pilih juga ?”. Ya memang gue juga menyadari akan hal itu setelah gue merasakan ketidaksrekan dalam menjalani perkuliahan di prodi ini. Mungkin jawaban untuk pertanyaan itu bisa lo coba baca dan pahami pada tulisan gue yang Struggling to PTN. Di sana hampir gue ceritakan semua alasan gue mengambil perkuliahan ini.
Dengan kondisi gue tidak sreg dengan prodi yang gue jalani saat itu, gue pun mulai merasakan perkuliahan semakin berat. Gue mulai merasakan perkuliahan sebagai suatu beban yang harus gue jalani untuk mengisi waktu gue yang kosong, - daripada gue menganggur. Gue merasa seperti mendapatkan bom layaknya bom di Hirosima dan Nagasaki jika diberikan tugas atau PR oleh dosen. Belum lagi dengan pratikum-pratikum yang harus gue jalani. Membuat laporan dari pratikum yang sudah dilakukan. Ini itu dan lain sebagainya yang membuat diri gue merasa terbebani dengan ini semua. Gue pun mencoba untuk merenungi sejenak. Memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi jika gue mengambil sebuah keputusan yang akan berdampak pada perkuliahan gue saat itu. Hingga pada akhirnya, gue menemukan suatu conclusion untuk mengatasi masalah gue yang satu ini.
Gue sudah berfikir, “lebih baik gue resign saja daripada gue harus menjalani perkulihan yang sudah jelas gue tidak sreg dengan prodinya”. Walaupun gue sudah berfikir seperti itu, gue belum mengambil tindakan untuk langsung resign dari prodi gue saat itu. Gue teteap menjalani perkuliahan seperti biasa. Datang pagi ke kampus. mengikuti kelas dan mendengarkan materi dari dosen. Presentasi dengan kelompok. Tugas pratikum beserta laporannya. Dan lain sebagainya sebagaimana mestinya menjalani perkuliahan.
Gue menjalani perkuliahan dengan kondisi tidak sreg, tidak lagi seperti sewaktu awal gue masuk kuliah. Gue sudah merasakan jenuh dan mulai bosan dengan perkuliahan gue saat itu. Akhirnya nih, setelah gue mengikuti suatu acara tahunan dari prodi gue, dan mendengarkan Ketua Prodi gue bercerita mengenai pengalamannya selama perkuliahan, meliat kakak-kakak tingkat dan alumni datang dalam acara tersebut, membuat diri gue semakin yakin dan membulatkan tekad untuk menyegerakan resign dari perkuliahaan gue saat itu. Gue inget banget setelah mengikut acara tersebut, kepala prodi gue bilang di kelas “Kalo ada di antara kalian yang merasa salah jurusan, lebih baik Anda keluar dari sekarang, daripada setelah semester lanjut. Selain merugikan Anda dan keluarga Anda, juga merepotkan pengurus akademik jurusan…” Kurang lebihnya seperti itu, tapi intinya adalah “kalo udah gak sreg dari awal lebih baik keluar di awal semester, daripada membuang-buang waktu, biaya, dan energi dalam menjalani perkuliahan”. Okeh setelah kelas hari itu selesai, di rumah gue mencoba untuk memikirkan kembali pernyataan dosen gue. Memang yang beliau bilang ada benarnya juga, namun ada tidak benarnya juga. Bisa aja kalau gue ingin merubah niat gue untuk belajar serius dan sungguh-sungguh. Namun ternyata setelah gue pikirkan kembali, daripada gue menjalani perkuliahan dengan ketidaksrekan gue, hanya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, dan lain sebagainya, lebih baik gue memilih untuk resign.
Selain itu, gue melihat bahwa dunia sekolah dengan dunia perkuliahan itu sangat jauh berbeda. Menurut gue, hampir di setiap sekolah pasti memiliki materi yang hampir sama. Terutama materi untuk Ujian Nasioanal. Gue belum pernah menemukan suatu sekolah yang materi Ujian Nasionalnya berbeda dengan sekolah lain (misalnya UNnya Olahraga dan Seni saja). Sedangkan di perkuliahan, pastilah beda-beda yang di pelajari untuk setiap jurusan, apalagi prodi. Terlebih lagi di perkuliahan kita harus bisa mengembangkan ilmu yang kita timba di perkuliahan. Oleh karena itu gue memilih untuk resign saat itu dari prodi gue.
Akhirnya gue resign saat itu. Lalu apa yang gue lakukan setelah resign ? Bagaimana dengan kedua orang tua gue ? Apa kata mereka ? Apakah mereka tidak kecewa ? Tidak marah ? Lalu bagaimana dengan sanak saudara gue ? Apakah gue tidak malu dengan keputusan yang sudah gue perbuat ? Hmm….
Hal yang gue lakukan setelah resign bisa kalian baca di beberapa tulisan gue, salah satunya Struggling to PTN. Lalu kedua orang tua gue ? Kecewa sudah pasti. Lalu bagaimana bisa mempercayai kedua orang tua gue ? Gue diskusikan dengan mereka secara baik-baik. Pastinya tidak melawan dengan mereka. Gue akan buktiin bahwa gue bisa untuk mencapai prodi yang memang gue targetkan. Salah satunya bisa gue buktikan dengan mengajar. Gue juga menjelaskan pada mereka mengapa gue tidak sregnya. Salah satunya adalah menjalani perkuliahan itu untuk kedepannya, gak mungkin kalau gue ngejalanin kuliah gue kedepannya dengan keadaan tidak sreg. Yang ada guenya malah jadi malas-malasan, hanya capek-capek saja. Dan untungnya kedua orang tua gue bisa mengerti dan support gue. Fix lah gue resign saat itu.
Okeh setelah gue cerita dari kuliah yang tidak sreg, sekarang gue mau cerita kuliah di tempat yang memang menjadi targetan kita.
Setelah gue mengikuti ujian tertulis untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 2016, akhirnya gue bisa keterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Gue sempat tidak menyangka bisa lulus juga di prodi yang memang sudah gue targetkan. Rasa senang yang luar biasa gue dapatkan setelah gue berhasil mencapai prodi kali ini.
Gue menjalani perkuliahan kali ini tentunya jauh lebih semangat dari sebelumnya. Kenapa ? Seperti yang gue bilang sebelumnya. Kalau lo bisa menjalani perkuliahan dengan enjoy, apalagi sudah sreg dengan prodi yang lo jalani, lo tidak akan merasa terbebani dengan perkuliahan tersebut. Justru lo akan merasa ada tantangan dalam menjalani perkuliahan tersebut. Banyak tantangan dan lika-liku yang jauh lebih seru lo temukan ketika lo bisa menjalani perkuliahan dengan enjoy. Ketika ada tugas dari dosen, gue merasa tidak terbebani. Justru gue jadikan tugas itu sebagai suatu tantangan. Ketika ada kuis harian, tidak lagi gue jadikan sebagai bom atom buat gue, tapi gue jadikan moment untuk mengetes pemahaman gue akan materi yang sudah di ajarkan. Loh bukannya memang itu tujuan diadakannya kuis maupun tugas ya ? Yaps memang seharusnya seperti itu, namun lo akan merasakan perbedaan dalam menjalani kuis dan tugas tersebut. Ketika lo menjalani di tempat yang tidak sreg dengan di tempat yang membuat lo enjoy menjalaninya.
Hari-hari dalam menjalani perkuliahan kali ini gue rasakan benar-benar enjoy. Memang semakin banyak tantangan yang gue dapatkan kali ini, tapi gue tetap bisa menjalaninya dengan santai, enjoy, dan focus.
Okeh, sekarang gue mau ambil sedikit kesimpulan dari kedua cerita diatas.
Jika lo kuliah salah jurusan:
1. Lo pasti akan menjalani perkuliahan dengan tidak semangat.
Bagaimana mau semangat menjalani perkuliahan kalo lo aja tidak sreg dengan prodinya. Sama halnya ketika lo tidak suka dengan suatu pelajaran di sekolah, pasti lo akan malas-malasan dalam menjali pelajaran tersebut. Tidak usah pura-pura. Apalagi sampai membohongi perasaan lo sendiri (?)
2. Tidak begitu mendapat apa-apa saat tatap muka dengan dosen di kelas.
Wah ini yang paling krusial banget. Hal ini yang gue rasakan ketika gue salah jurusan. Gue merasakan seperti tidak dapat apa-apa saat belajar di kelas dengan dosen. Kecuali satu mata kuliah yang emang gue suka banget, yaitu Kalkulus.
3. Menghabiskan biaya dan waktu
Tentunya kalo menjalani kuliah salah jurusan, lo hanya akan menghabiskan biaya dan waktu lo dengan sia-sia. Bagi lo yang kedua orang tuanya tidak begitu bermasalah dengan keadaan finansial, mungkin biaya tidaklah menjadi hal yang berarti buat lo. Namun buat lo yang memiliki sedikit permasalahan dengan keadaan finansial, jangan sampai lo menyia-nyiakan perngorbanan kedua orang tua lo yang sudah menguliahkan lo. Kalau memang sudah dari awal lo sudah merasakan tidak sreg, lebih baik lo pikirkan kembali. Pikirkan dengan benar-benar matang dari segala aspek. Baik aspek gimana lo kedepannya nanti setelah lo ambil keputusan untuk resign. Bagiamana kedua orang tua dan keluarga lo kalau lo resign. Bagaimana perasaan kedua orang tua lo kalau lo menjalani perkuliahan tidak serius hanya karena lo tidak sreg dengan prodinya. Bayangkan ketika kedua orang tua lo berjuang untuk mencari biaya kuliah lo. Mungkin lo hanya bisa menerima saja saat ini, tapi apakah lo tau bagaimana beratnya perjuangan mereka untuk bisa memperjuangkan lo agar lo tetap bisa kuliah ? Pikirkan matang-matang akan hal itu kawan. Selain biaya, waktu yang akan terus berjalan tidak akan bisa lo dapatkan kembali. Daripada lo menghabiskan waktu lo untuk menjalani perkulian lo yang tidak sreg, lebih baik lo pikirkan kembali agar waktu lo tidak terbuang dengan begitu saja. Gue ada sedikit quotes nih… 

@rezarubik
4. Menjalani perkuliahan jadi tidak lebih seru dan asik
Hal ini tentu sangat jelas. Coba lo bayangkan jika lo di kasih suatu makanan oleh seseorang yang lo tidak suka dengan makanan tersebut, apakah lo akan menerima untuk memakannya ? Mungkin saja lo akan memakan makanan tersebut namun dengan rasa sedikit terpaksa. Analogi tersebut bisa hampir sama dengan salah jurusan. Kalo lo sudah tidak sreg dengan prodi yang sedang lo jalani, maka untuk menjalaninya saja pasti setengah hati. Perkuliahan menjadi kurang seru dan asik. Perkuliahan akan menjadi terasa beban. Pokoknya perkuliahan menjadi penjara bagi kalian yang menjalaninya setengah hati.
Namun dari beberapa hal diatas, ada hal yang gak kalah penting lo perhatikan adalah bagaimana lo kedepannya. Pikirkan kondisi terpaitnya (jika tidak lulus) jika lo memilih untuk benar-benar resign seperti gue. Memang kita tidak ada yang mengetahi akan seperti apa kedepannya, namun kita tetap harus bisa meminimalisir segala kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satunya bisa lo lakukan dengan belajar lebih benar lagi. Belajar lebih giat dan serius lagi. Meningkatkan kualitas belajar dari sebelumnya. Dan lain sebagainya.
Selanjutnya, jika lo menjalani perkuliahan di tempat atau prodi yang memang menjadi target lo untuk melanjutkan kuliah:
1. Lo pasti akan menjalani perkuliahan dengan penuh semangat.
Menjalani perkuliahan akan menjadi lebih semangat, bergairah, jika lo menjalani perkuliahan di prodi yang memang menjadi targetan lo. Kenapa bisa seperti itu ? Karena lo akan menjalani perkuliahan hampir seperti mendalami hoby lo (harusnya). Lo akan benar-benar merasakan enjoy dalam menjalani perkuliahan. Kuliah tidak lagi menjadi suatu beban. Menjadi penuh semangat dalam menjalani perkuliahan dan lain sebagainya.
2. Mendapat sesuatu yang baru saat tatap muka dengan dosen di kelas
Ketika lo sudah bisa enjoy dalam menjalani perkuliahan, di kelas kita pasti bisa mendapatkan pelajaran baru. Belajar di kelas tidak lagi malas-malasan. Pasti jauh lebih excited daripada saat menjalani perkuliahan yang tidak sreg.
3. Bisa menjadikan waktu dan biaya sebagai investasi ke depan
Sebenarnya salah satu dari sekian manfaat kuliah adalah kita dapat menginvestasi waktu kita selama kuliah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih setelah lulus kuliah nanti. Bisa lo bayangkan jika lo mennjalani kuliah yang tidak sreg, bagaimana bisa lo menjadikan waktu sebagai investasi untuk ke depan. Beda halnya dengan lo kuliah yang memang lo enjoy menjalaninya. Lo bisa menjadikan masa kuliah lo sebagai investasi untuk ke depan. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama kuliah. Selain itu, lo juga bisa memaksimalkan biaya yang sudah lo keluarkan untuk perkuliahan lo jadi lebih berguna. Hal itu dengan asumsi lo menjalani perkuliahan dengan benar-benar dan sungguh-sungguh. Jika malas-malasan dan sebagainya, apa bedanya dengan yang salah jurusan. Oleh karena itu, lo bisa memanfaatkan biaya kuliah lo untuk memperdalam ilmu yang ingin lo dalami dan menjadi muara ilmu dalam kehidupan lo nanti.
4. Menjalani perkulihan jadi lebih asik dan seru
Hal ini tentu saja. Perkuliahan akan menjadi tidak terasa jika lo bisa enjoy dalam menjalaninya. Kuliah bisa menjadi tempat yang asik dan seru jika lo bisa enjoy menjalaninya, terutama dengan prodi yang sudah lon targetkan. Lo bisa mengeksplor ilmu yang sudah lo dapatkan di kelas. Lo bisa bisa berinovasi dengan ilmu yang sudah lo pelajari. Selain itu, karena saking asik dan serunya menjalani kuliah, lo bisa sampai lupa untuk mandi (ini entah karena memang keasikan atau karena kebanyakan tugas ya hehe). Tapi jangan karena keasikan dengan kuliah, lo sampai lupa akan kodrat lo sebagai manusia yang menyukai lawan  jenis ya  HEHE (?)
Beberapa hal diatas mungkin saja bisa lo rasakan ketika lo kuliah salah jurusan maupun sudah kuliah yang memang sudah menjadi targetan lo. Buat kalian yang masih bingung keputusan apa yang akan kalian ambil jika sudah terlanjur  jurusan, kali bisa baca di blog zenius.
Menurut gue pribadi, jika memang lo membulatkan tekad untuk pindah jurusan, lebih baik lo tetap mengejar impian lo tapi dengan effort yang berbeda dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, lo juga harus bisa meyakinkan kedua orang tua lon jika lo benar-benar ingin pindah jurusan. Kasih mereka sesuatu yang membuat mereka percaya bahwa keputusan lo untuk pindah jurusan adalah pilihan terbaik untuk mereka dan diri lo sendiri.
Buat kalian yang ingin pindah jurusan namun tetap ingin melanjutkan kuliah yang sekarang lo jalani, lo harus bisa mengatur waktu untuk kuliah dan belajar untuk ujian selanjutnya. Tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin saja bisa terjadi. Misalnya, pada semester satu, lo memfokuskan untuk kuliah lo terlebih dahulu agar bisa mendapatkan nilai IP yang lumayan tinggi. Saat semester dua baru lo bagi waktu untuk perkuliahan dan belajar untuk ujian. Jika nilai IP lo di semester dua tidak setinggi IP saat semester satu, IPK lo tidak akan terlalu jatuh karena sudah lo imbangi dengan nilai IP lo semester satu yang bisa lo dapatkan lebih tinggi.
Wokeh mungkin sekian cerita yang dapat gue ceritakan pada kalian. Cerita ini pure dari pengalaman pribadi gue. Inti dari gue adalah jika lo memang sudah bertekad untuk resign dan pindah jurusan, lakukan usaha yang jauh lebih baik dan benar dari usaha lo sebelumnya. Jika lon sudah enjoy dalam menjalani perkuliahan, nikmati kuliah yang sudah lo impikan. Terus dalami ilmu yang lo dapat dari perkuliahan, baik di kelas dengan dosen maupun di luar kelas. Jadikan ilmu yang lo pelajari di perkuliahan sebagai muara ilmu kehidupan lo yang akan lo pakai seumur hidup lo. Jika lo ingin pindah jurusan namun juga tetap ingin mempertahankan kuliah lo yang salah jurusan, pintar-pintarlah dalam mengatur waktu antar kuliah dengan belajar untuk ujian selanjutnya. Oleh karena itu, apapun keputusan yang lo ambil, yakinkan pada diri lo sendiri, kedua orang tua lo, bahwa keputusan tersebut merupakan keputusan yang lebih baik. See you in the next script and good luck for all of you guys !

0 komentar:

Post a Comment